Mengenal Lebih Dekat Sahabat Mobil Petualang

Anda seorang petualang? Setidaknya memiliki jiwa petualang? Atau seorang yang suka tantangan? Suka memacu adrenalin? Inilah sahabat buat anda. Mobil sahabat petualang begitu sebutannya.Mobil yang diproduksi oleh Astra Daihatsu Motor ini memeng dirancang buat anda yang ingin berpetualang.


Melalui blog ini, akan coba saya paparkan beberapa keunggulan dari Mobil Sahabat Petualang ini yang nama aslinya adalah Daihatsu Terios

Jejak Petualang Terios 7-Wonders

Beberapa waktu kemarin Daihatsu Terios beserta tim 7 Wonders yang terdiri dari 10 orang petualang ini melibas keindahan alam pulau Sumatera dengan tiga unit Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit). Rentang perjalanan ini tidak kurang dari 3.300km yang memakan waktu 14 hari.Tim Terios 7-Wonders merangkum keindahan panorama pulau Sumatera hingga titik Nol Kilometer di Sabang, dalam rangkaian cerita yang menggambarkan adrenalin yang tercipta selama perjalanan, bagi Sahabat Daihatsu. Misi utama perjalanan ini, semata ingin mengguggah mata dunia akan kekayaan alam Indonesia khususnya pulau Sumatera.  Dan Indonesia sebagai produsen kopi Luwak, merupakan salah satu aset Negara yang sudah selayaknya menjadi bagian dari kebesaran Indonesia. . Dan dalam petualangan Daihatsu Terios7-Wonders kali ini, Daihatsu ingin mewartakan bahwa Daihatsu sangatlah peduli akan segala bentuk potensi alam yang dapat memperkaya khasanah masyarakat Indonesia, khususnya kepada dunia.
Sepanjang rentang perjalanan mulai dari lampung hingga Sabang, terdapat tujuh spot produsen kopi (Coffee Paradise) yang akan menjadi bagian dari eksplorasi kekayaan alam dan budaya Indonesia selama perjalanan.

Petualangan Pembuka Terios 7-Wonders

 Perjalanan pembuka di hari pertama ini, tim menempuh jarak hingga 567 km dari Jakarta menuju Liwa. Liwa merupakan jalur strategis yang menghubungkan tiga wilayah provinsi, Lampung, Bengkulu dan Sumatera Selatan.
Setelah dilepas di VLC serta melakukan persiapan, tepat pada pukul 23.00 WIB tim bergegas menuju penyeberangan Merak-Bakauheni. Tepat kala fajar menyingsing Tim sampai di ujung pulau Sumatera, kota Lampung. Dari kota Lampung tim bergerak menuju Liwa, Lampung Barat.

Kopi Liwa Tercium Hingga Mancanegara

Sampai di kota Liwa tepat pukul 17.00 WIB, kemudian istirahat. Dan di pagi buta santapan pertama mereka adalah Kopi luwak khas Liwa ditemani oleh semilir angin yang enggan pergi. Kopi luwak khas Liwa ini tercium hingga mancanegara.
Kemudian mereka bergegas menuju menuju produsen kopi Luwak yang lokasinya tak jauh dari Danau Ranau – Kopi yang cukup terkenal di seluruh dunia.Tak cuma karena rasanya yang nikmat tapi harganya pun lumayan mahal.Harga per kilo berkisar antara Rp 400 ribuan sampai jutaan. Alasannya adalah karena proses pembuatannya lumayan ribet, selain itu hanya kopi terbaik saja yang dimakanLuwak.

Secangkir Kopi Lambang Persahabatan

Dari Danau Ranau, tim bergerak lagi menuju kota Lahat. Orang nomor satu di Lahat, H Saifudin Aswari Riva'i SE segera menemui tim 7Wonders begitu tahu tim sedang menyambangi Pasar Lama kota Lahat. Di kabupaten Lahat banyak terdapat kebun kopi, hanya saja karena pemasarannya dikuasai tengkulak maka harga beli kopi dari petani kerap dipermainkan. Sehingga banyak yang mulai meninggalkan kebun kopi.Perjalanan Terios 7Wonders– Sumatera Coffee Paradise diharapkan bisa menggairahkan kembali para petani kopi di Lahat untuk mengolah kebun kopi yang lama ditinggalkan.

Daihatsu Terios Melahap Tanjakan Terjal

Sesudah dari Lahat tim 7 Wonders bergerak menuju persinggahan berikutnya di kota Pagaralam. Jalanan menuju kota Pagaralam agak sedikit bergelombang. Sekitar 20 menit keluar dari kota Lahat jalanan mulai berkelok-kelok. Memasuki perbatasan kota Pagaralam, kelokan jalanannya disertai dengan tanjakan terjal.

Untuk mengatasi handycap ini, shifter matik Terios pun berpindah-pindah. Ketika tanjakan lumayan terjal agar akselerasi tetap terjaga posisi shifter bergeser ke L. Begitu sudah agak landai bergeser lagi ke 2 , D-3 dan juga D. Walaupun penuh dengan penumpang dan barang bawaan, ternyata ketiga terios yang terdiri dari 2 tipe matik dan 1 manual berhasil mengatasi tantangan jalanan ini. Asyiik!

Untuk menemukan kebun kopi di dekat lokasi menginap ternyata tidak sulit. Tapi untuk menemui tempat pengolahan biji kopi, baru bisa di dapatkan di salah satu toko souvenir khas Pagaralam di pusat kota. Sayang karena mesin gilingnya sedang rusak terpaksa proses penggilingan kopi dihentikan.

Di tengah keasyikan tim 7Wonders Terios menjajal jalanan light off-road, ada kabar bahwa mesin pengolah kopi sudah berfungsi kembali. Tanpa membuang waktu timsegera bergerak menuju lokasi di Pusat Kota Pagaralam untuk menyaksikan sendiri seperti apa pengolahan kopi di Pagaralam. Ternyata sistem pengolahannya mirip dengan sentra kopi di Liwa dan Lahat nyaris sama saja. Perbedaannya adalah cara me-roaster biji kopi.
Tak terasa waktu makan siang sudah tiba. Diok menawarkan untuk makan siang di pinggir sungai sembari menikmati aliran sungai yang jernih. Wah, ini yang ditunggu-tunggu! Kebetulan lokasi sungai yang dimaksud tak jauh dari rumah Nando. Menu santap siang segera dipindahkan ke dalam mobil dan diangkut menuju lokasi.

Rupanya Nando sudah menunggu di sana. Tanpa membuang waktu tim segera bergerak. Jalan yang dilalui lumayan kecil dan sedikit light off-road. Untuk mencapai lokasi yang dimaksud tim 7Wonders harus membawa Terios menyeberang sungai kecil. Ground clearence yang tinggi membuat tim yakin tak akan ada masalah melewati sungai kecil itu. Dan ternyata itu benar.

Atasi Jalur Sempit dan Berkelok Kelok

Usai santap siang di pinggir Sungai, tim 7Wonders langsung mengarahkan tujuan menuju Kabupaten Empat Lawang (Tebing Tinggi).
Seperti biasa, tim 7 Wonders mengunjungi pengolahan kopi yang ada di Empat Lawang. “Kopi di Empat Lawang ini berbeda.Ini merupakan hasil percampuran Arabica dan Robusta.Wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica,” jelas pemilik pengolahan kopi, Anang Zairi.

Petualangan seru bersama 3 Daihatsu Terios kembali dilakukan. Dari Desa Talang Padang rombongan bergerak menuju ke Curup – salah satu sentra penghasil kopi di daerah Bengkulu melalui Kepahiang. Jalanan berkelok-kelok naik dan turun membuat kami seolah sedang menari bersama Terios. Jalanannya relatif sepi namun sempit.Pemandangan alamnya sungguh menyejukkan mata.
Mesin berkapasitas 1.500 cc yang membekali Terios ternyata masih cukup andal. Pun demikian dengan suspensinya. Beberapa kali Terios kejeblos di lubang jalan, namun tak ada masalah berarti.Akselerasi di tanjakan maupun ketika menyalip kendaraan di depannya baik yang memakai girboks matik maupun manual tetap terasa bertenaga.
Tetapi lagi-lagi, pemakai
Terios harus jangan segan memindahkan tuas dari D ke D-3 maupun 2. Bahkan di tanjakan yang terjal agar tak ngempos tenaganya perlu dipindah lagi ke posisi L. Tanjakan dan kelok-kelokan ini ternyata terus mewarnai sepanjang jalan sebelum tim 7Wonders memasuki kota Bengkulu.


Menari Bersama Terios

Tim akhirnya tiba di Bengkulu sekitar pukul 18.30 WIB.Ketika sampai di Bengkulu tim 7Wonders beristarahat agak lama. Karena rute Bengkulu – Bukit tinggi melalui Padang ditempuh secara langsung. Selain itu tim juga mengunjungi acara CSR berupa penyerahan bantuan untuk Posyandu dan juga UKM. Usai mengikuti acara CSR tim 7Wonders langsung bergerak untuk menikmati kuliner di Bengkulu dan juga obyek-obyek wisata sejarah yang ada di kota ini.
Dari Bengkulu menuju Bukittinggi melalui Muko-Muko Padang, tim 7 Wonders menjajal jalur pantai barat trans Sumatera.

Petualangan tim melalui rute pantai barat memang terasa berbeda. Kalau sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panasnya lumayan menyengat berkisar 35 derajat Celcius, tikungan-tikungan yang ada juga lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya.

Perfoma 3 Terios yangdibawa timternyata masih tetap mantap. Walaupun tim “siksa” untuk melahap rute yang dilalui, semua berhasil diatasi dengan sempurna. Sementara kondisi anggota tim 7 Wonders sendiri akibat perubahan suhu yang lumayan cepat berubah-ubah dan juga kurangnya istirahat membuat sebagian orang mulai teserang flu. Tapi sejauh ini semua masih tetap oke dan semangat.



Desa Kopi yang Hilang

Setelah beristirahat semalam petualangan bersama 3 Terios dilanjutkan. Tujuan selanjutnya adalah mengeksplor kopi yang dihasilkan dari desa di Madailing Natal.Dalam sejarah perkopian Indonesia, desa yang jadi pusat kopi Arabica pertama kali di tanam adalah Desa Pakantan – Mandheling Natal.

Jalanan Rusak

Ternyata dari pertigaan jalan raya Pasaman, timharus menempuh perjalanan kurang lebih 25 Km dan masuk kembali di arah pedalaman. Jalannya beraspal namun lumayan sempit. Kalau berpapasan harus berjalan pelan agar ban tak kejeblos dengan tanah. Dari desa ini tim diajak untuk masuk lagi ke dalam menuju desa paling ujung. Jalan aspal sudah habis dan berganti jalanan makadam dan tanah. Asyiiikk off-road time! Hujan deras yang sempat turun membuat tanah jadi becek. Ini justru yang dinanti dan bikin badan jadi segar lagi.
Ground clearence Terios teruji dan tak mudah mentok. Sementara performa girboks matik dan juga mesin 1.500 vvti ok juga. Dipaksa main off-road ternyata oke banget. Kalau ada versi 4x4-nya pasti tetap laku. Hari ini tim masuk penginapan di Mandhelig Natal sekitar pukul 9 malam.Jalanan sepanjang Mandailing Natal – Tarutung kondisinya tak stabil. Sebagian mulus sebagian lagi rusak parah karena perbaikan jalan yang belum juga selesai. Bekas jembatan yang putus karena banjir bandang sudah diperbaiki.
Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Jalanan tanah berbatu lagi-lagi menguji ketangguhan suspensi Terios. Tim terkejut dengan ketangguhan suspensi Terios. Selama dalam perjalanan meskipun harus di “hajar” di jalanan jelek ternyata suspensi Terios masih oke.Walaupun tim berhati-hati, ternyata kecelakaan tak dihindari. Salah satu Terios yang tim kendarai tiba-tiba slip di salah satu tikungan menjelang Tarutung. Padahal saat itu sedang tidak ngebut. Stir Terios tak mau belok dan meluncur lurus dan berhenti setelah menyenggol semak belukar.

Menikmati Kota Rafflesia

Akhirnya tiba di Medan. Selama 2 malam di Medan tim melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR). Program ini disinergikan dengan program CSR PT. Astra Daihatsu Motor (ADM). Untuk di Medan acara simbolis penyerahan bantuan kepada 2 Posyandu dan 5 UMKM dilakukan di dealer Daihatsu, Jalan Sisingamangaraja No. 170, Medan.
Selain aksi sosial, di Medan tim juga melakukan pengecekan dan perbaikan pada 3 Terios yang menemani perjalanan 7Wonders. Pengecekan dilakukan di main dealer Daihatsu Medan. Kondisi kekencangan baut-baut dan juga pengereman kami cek kembali.

Ujian Ketahanan

Etape terakhir perjalanan tim 7Wonders yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebelum ke Aceh tim bersinggah dulu di kota Takengon. Kota ini adalah persinggahan terakhir tim 7Wonders dalam mengeksplorasi 7 tempat penghasil kopi di Pulau Sumatera.

Menjelang masuk Takengon, komunitas jip dari Gayo sudah menunggu. Mereka siap mengawal 3 Terios mencicipi trek bukit Oregon. Trek light off-road dengan pemandangan yang indah. Kemampuan Terios lagi-lagi diuji di sini.Kenyamanan dan juga ketangguhan kaki-kaki Terios terbukti andal. Melewati trek tanah berbatu dengan beragam kontur tak ada kendala berarti. 
Masyarakat di kota ini tak bisa lepas dari kebun kopi.Rasanya hampir semua penduduk di kota ini memiliki kebun kopi. Minimal satu keluarga punya setengah hektar luasnya.Karena letaknya kurang lebih 1.300 m dpl maka sangat cocok untuk menanam kopi jenis Arabica.



Finish!

Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7-Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu “Nol” Kilometer tepat pukul 12.48 WIB (24/10). Dari sinilah pengukuran luas wilayah Indonesia dimulai.
Di Sabang, rombongan Terios 7-Wonders sudah ditunggu oleh para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) antara lain, Amelia Tjandra, Rio Sanggau, Elvina Afny, Guntur Mulja dan beberapa wartawan nasional dari Jakarta yang diajak khusus menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Anggota tim 7-Wonders yang terdiri dari Tunggul Birawa (leader), Insuhendang, Bimo S Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan (ADM), Rokky Irvayandi (ADM) mendapat ucapan selamat dari yang hadir di tugu “Nol” Kilometer.
Seremoni singkat menandai berakhirnya ekspedisi ini dilakukan di Tugu “Nol” Kilometer. Plakat Terios 7-Wonders yang dibawa tim diserahkan oleh Tunggul Birawa selaku komandan tim kepada Amelia Tjandra. Selanjutnya plakat ini diserahkan kepada dr. Togu yang mewakili pemda Sabang. Plakat ini ditanam di lokasi yang memang sudah disediakan di sekitar lokasi tugu Nol Kilometer.

Kurban 3 Sapi

Karena  jadwal kepulangan tim Terios 7-Wonders kebetulan memang sangat berdekatan dengan hari raya Idul Adha. Sebelum pulang, , PT ADM dan juga tim Terios 7-Wonders menyerahkan 3 ekor sapi untuk dijadikan hewan kurban. . “Ini salah satu bentuk ucapan rasa syukur kami karena program Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise sudah berhasil dilaksanakan tanpa ada hambatan berarti. 3 ekor sapi ini melambangkan 3 Terios yang kami bawa dari Jakarta hingga Aceh,” komentar Rio Sanggau salah satu petinggi ADM ketika menyerahkan 3 ekor sapi pada panitia kurban di Masjid Raya – Banda Aceh.
Itulah rangkaian perjalanan panjang tim Terios7-Wonders.

Jadi, jangan ngaku petualang sebelum mencoba mobil yang satu ini, Daihatsu Terios. :)


#MobilSahabatPetualang
referensi :

No comments:

Powered by Blogger.