Cerita dalam Bus

Realita yang harus gue jalani, back to bandung, tanah perantauan. Karena tinggal menghitung hari harus menghadapi UAS = Ujian Agak Serius, ehhh maksudnya Ujian Akhir Semester. UAS dilaksanakan hari Senin tanggal 02 Juni 2014. Sengaja berangkat ke Bandung hari kamis, tanggal 29 Mei 2014 alasannya biar bisa belajar di kost. Selain itu juga karena ada jadwal freelance yang harus gue laksanakan, ini menyangkut keuangan. Niat awal menggunakan kereta, namun alhasil kereta yang tersisa tinggal harga 70 ribu. Ah, mending naik bus meskipun lama, yang penting hemat 20ribu. 20ribu buat seorang mahasiswa sangatlah berharga, bisa untuk makan dua harian.

Kamis pagi, gue nunggu bus di tempat biasa orang menunggu angkutan umum. Kebiasaan dari awal masuk kuliah ketika berangkat dianter oleh ayah dan ditunggu hingga naik ke dalam bus. Tak apalah dikatain anak papa, ini kan bukti rasa sayang seorang ayah kepada anaknya, dan semoga dengan ini perjalanan gue bisa selamat sampai tujuan sekaligus berkah. Aamiiin. Lama sekali bus yang diinginkan datang jemput gue yang sudah lama berdiri menunggu. Yaps, bus sahabat adalah pilihannya. Karena udah punya 8 tiket, ngejar 1 tiket lagi biar bisa dapet 1 tiket gratis naik bus sahabat. Namun kenyataannya lamaaaa sekaaliiiiiiiii.

Satu jam berlalu, datanglah bus bhineka Cirebon-bandung. Sebenarnya bukan ini yang gue pengen, tapi karena sudah lama menunggu dan hari sudah menjelang siang, dengan berat hati gue pilih bus ini.

Tak terlihat tempat duduk yang benar-benar kosong dalam bus. Ada juga satu orang duduk dan satu kosong.

“permisi pak, boleh duduk?” sapa gue pada seorang bapak.

“silahkan” jawabnya penuh ramah.

Duduk bersebelahan dengan seorang bapak yang umurnya tak jauh berbeda dengan ayah gue.

Rasanya tak enak dan tak nyaman bila bersebalahan hanya berdiam-diam saja. Oleh karenanya, bapak itu membuka obrolan dengan mengajukan pertanyaaan.

“Mau ke mana dek?” tanyanya

“Mau ke setiabudhi pak”

“Oh kuliah di UPI?”

“Iya pak, kuliah di UPI”

Dan bla … blaa.. blaaaa… obrolan berlanjut tentang jurusan, kost, dan lain lain yang menyangkut perkuliahan. Hingga beliau menanyakan keluarga gue yang asli Cirebon, anak ke berapa, punya adik dan kakak enggak.

Obrolah semakin menarik ketika beliau menceritakan kegiatan sehari-harinya. Hari itu beliau ingin ke sumedang guna membuka sekolah baru di sana. Yayasan yang menaungi sekolah tersebut adalah milik temannya. Beliau hanya sebagai pengelola sekolah tersebut. Sekarang bapak itu tinggal di Cirebon bersama keluarganya. Sebenarnya asli dari Pontianak Kalimantan. Merantau ke berbagai daerah di pulau Jawa.

Diceritakan juga tentang kuliahnya yaitu di STBA Bandung, yang berada di Cihampelas. Pantas saja beliau tau kalau gue kuliah di UPI. Di STBA ngambil jurusan Bahasa inggris. Yaa beliau suka Bahasa Inggris dan pariwisata. Padahal katanya waktu SMA juga salah tiga yang diundang secara khusus untuk mengikuti jalur PMDK. Namun karena keinginannya tetap, beliau tetap memilih STBA.

Nasihat-nasihat pun disampaikan beliau baik secara tersirat maupun tersurat.

“Kalau kita punya satu keahlian, rasanya nggak mungkin mati kelaparan. Pasti ada aja jalan rezeki dari Allah”

Beliau memiliki 7 anak. Dan kelima anak tersebut sudah memasuki pendidikan formal. Namun selama ini beliau Alhamdulillah tidak kekurangan dalam biaya pendidikan.

“Ada aja rezekinya entah dari mana datangnya. Memang benar kalau udah nikah itu rezeki semakin mudah” katanya sambil tersenyum.

Aduh, lagi sensitif dengan kata nikah. Udah lama nggak baca bukunya. Ehhh, malah denger juga kata ‘nikah’ secara langsung oleh orang yang sudah mengalaminya. Jadi yaaa, semakin bertambah keinginan untuk menikah -_-. Bapak ini seperti sedang ngomporin gue tentang nikah.

Beliau juga bercerita keahliannya dalam berbahasa.

“Belajar bahasa itu yaa harus sering berkomunikasi. Bapak juga dulu jadi santri di Jawa Tengah, belajar Bahasa Arab”

“Berarti bapak sudah menguasai 5 bahasa. Melayu, Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab” lanjutnya.

“Belajar itu harus tau dulu konsepnya. Kalau konsepnya tau, akan lebih mudah dalam belajarnya”

“Nah, biasanya orang teknik tidak mudah belajar Bahasa, karena mereka dijejali dengan angka-angka dan perhitungan. Begitu sebaliknya, orang Bahasa tidak mudah belajar teknik atau sains. Orang teknik langsung nyambung ketika ditunjukkan angka-angka. Mereka langsung nyambung otaknya” jelasnya.

Saat sedang asyik ngobrol, kondektur menagih ongkos kami berdua. Langsung, gue bayar 50ribu buat ongkos tersebut. Bapak tersebut pun ngasih 30ribu untuk ke Sumedang. Namun sang kondektur bilang “kurang pak, nambah 10 ribu”. Akhirnya sang bapak tersebut ngasih tambahan ongkos 10 ribu tanpa basa basi.

Kemudian beliau bilang, “yaa, bapak biasanya gini. Kalau kurang yaa ditambah, nggak protes ini itu, nambah panjang masalahnya. Kasih aja. Dia (kondektur) juga punya keluarga yang haris diberi nafkah. Dan mungkin ini jalan satu-satunya sang kondektur mengais rezeki. Sedangkan kita, masih bisa berlalu lalang menjemput rezeki. Yaaa, ini juga sebagai lading amal kita kelak”

Berbanding terbalik sama gue yang kadang protes ini, protes itu. L Belum bisa ngasih lebih kepada yang lain. Jika uang tambahannya jauh melebihi ongkos biasanya, gue protes. Misal, harusnya 50ribu itu malah 80ribu atau bahkan 100ribu, itu rasanya sudah keterlaluan. Tapi kalau masih dalam batas wajar, yaaa kalau lagi baik kasih aja, tapi kalau lagi nggak baik yaaa protes dulu sebentar.

Bus yang kami tumpangi sudah memasuki wilayah sumedang kota, artinya sebentar lagi bapak ini sampai di tempat tujuan. Di akhir obrolan, beliau nanya nama gue.

“Namanya siapa yaah?” tanyanya.

“Nama saya umar pak. Bapak siapa?”

“Saya Abu Umar. Tau kan abu Umar?” jawabnya.

“Biasa dipanggil Abu Umar, tapi nama sebenarnya Indra” lanjutnya.

Sebelum turun dari bus, beliau beli tahu sumedang dan ngasih tahu sumedangnya ke gue.

“Makasih pak” J

Ini nih yang gue demen naik angkutan umum, kita bisa bersilaturrahim dengan orang yang dulunya nggak kita kenal. Artinya teman kita bertambah. Salah satu manfaat silaturrahim menurut hadist adalah mendapatkan rezeki. Dan Alhamdulillah terbukti. Hehe. Rezekinya dalam bentuk makanan, tahu sumedang. J Manfaat lainnya, kita bisa memperoleh ilmu. Kita juga bisa berbagi cerita dengan teman baru yang mudah-mudahan Allah mempertemukan lagi di tempat yang berkah. Aamiin.

Salam pecinta angkot.

No comments:

Powered by Blogger.