Ketika Ditanya Tentang Istri


Sebelum pelaksanaan KKN, alangkah lebih baiknya melakukan survey lokasi terlebih dahulu guna mengetahui keadaan lokasi KKN seperti apa, potensi yang ada apa saja, kendala-kendala yang dihadapi, dan yang nggak kalah penting adalah rumah (basecamp) yang menjadi tempat tinggal selama 40 hari.

Beberapa kelompok sudah survey ke tempat KKN nya. Kali ini, sebelum survey besar-besaran, kelompok kami melakukan survey kecil-kecilan. Yang ikut survey ada izet (kepala suku), ade, dan gue sendiri. Start perjalanan dari terminal Leuwi Panjang tepat pukul 07.30. Izet sendiri dengan motor matic nya. Gue bonceng di ade yang juga dengan motor matic nya.

Perjalanan melalui Jl. Soekarno Hatta yang lengang menuju Cileunyi, Jatinangor. Istirahat sejenak di sebuah minimarket Tanjung Sari Sumedang. Setelah 15 menit, kembali melanjutkan perjalanan menuju lokasi KKN. Jalanan yang berkelok kelok ditambah rusak yang cukup parah membuat izet mengalami kecelakaan kecil, untungnya tak apa-apa, hanya lecet sedikit bagian motornya. Jalanan rusakpun harus kami taklukan ketika sudah belok dari jalan utama yang menghubungkan Bandung – Cirebon.

Akhirnya tiba di desa Sekarwangi waktu menunjukkan pukul 11.30. Kantor desa yang letaknya pinggir jalan banget membuat kami mudah menemukannya. Kantor desa terlihat kosong, sepertinya tak ada orang. Ohh iya, ini kan hari Minggu, libur. Setelah bertanya ke warga sekitar, kami menemukan rumah kepala desa Sekarwangi.

Dari dalam rumah yang ditunjukkan warga, keluar ibu-ibu tangguh paruh baya. Beliau mempersilahkan kami masuk dan duduk. Kemudian beliau mengenalkan dirinya yang merupakan kepala desa Sekarwangi. Kami bercerita maksud kedatangan kami ke desa ini kepada ibu kades. Beliau menjawab dan menyampaikan beberapa hal terkait desa Sekarwangi. Mulai dari perangkat desa yang terdiri dari kepala dusun 3 orang, pelaksana teknis lapangan 3 orang, 2 orang staf kesekratriatan, dan 1 orang sekretaris desa. Menjelaskan potensi apa saja yang ada di desa.

“Kalau di sini potensinya adalah sumber daya air. Air di sini banyak, saking banyaknya air tersebut ditampung di kolam yang dibuat di sekitar rumah. Jadi sebenarnya, tujuan membuat kolam adalah untuk menampung air agar tidak masuk ke dalam rumah. Kemudian kolam tersebut ada yang diberdayakan untuk budidaya ikan ada juga yang dibiarkan begitu saja. Namun budidaya ikan di sini kurang maksimal. Selain air ada juga potensi yang lain yaitu peternakan ayam, peternakan domba, dan peternakan sapi” jelas beliau.

“Kalau tahun kemarin dari UPI itu tentang pemberdayaan pekarangan warga dengan ditanami tanaman pangan. Sedangkan untuk pendidikannya, untuk SD dan SMP membantu mengerjakan PR dan mengaji, untuk SMA mengajarkan teknologi informasi, tentang komputer” lanjutnya.

Beliau juga menyampaikan beberapa hal yang harus diperhatikan ketika KKN, laporan pertanggung jawaban, jangan menyia-nyiakan waktu sedetikpun, bekerja sama, inkonsistensi, jangan mengabaikan hal-hal kecil, efektivitas, jaga nama baik almamater, satu visi, tidak mengharapkan mahasiswa terbebani dengan membayar iuran yang berlebih. Beliau memohon dengan sangat yang biasanya minum minuman keras agar dihentikan dulu selama KKN. Karena pernah kejadian ada yang seperti itu dari universitas lain, bahkan yang melakukannya adalah ketua kelompoknya. “ngeri juga yaah”. “Yaaa harapan ibu dihentikan untuk seterusnya”.

“Untuk rumah, sekarang ibu nggak bisa menentukan dulu. Nanti ibu kasih rekomendasi rumah yang akan kalian tempatin, yang aprsesiasi warganya cukup tinggi” pungkasnya.

Tak terasa hampir 1 jam kami berbincang. Kami mengakhiri pertemuan itu dengan menanyakan nama beliau serta nomor kontaknya, dan nomor kontak pak camat.

Cuaca panas, terik matahari yang menembus relung hati paling dalam mengurungkan kepulangan kami.

“Panas euy, kita istirahat dulu aja yuuuh ah” ujar Izet

“Di nagrak waeh, rumah nenek saya” ajak Ade.

Sepakat istirahat di nagrak.

Di sebuah rumah sederhana, bangunan lama, ada seorang nenek yang menyambut kedatangan kami dengan sangat hangat. Nenek tersebut adalah neneknya Ade. Gue memperhatikan cara nenek itu menerima dan memperlakukan kami sebagai tamu. Senyum terpancar dari wajahnya. Beliau sangat senang, sangat hangat menerima kami ke rumahnya. Gue banyak belajar dari beliau tentang bagaimana hangatnya menerima tamu serta memperlakukannya.

Ketika sedang duduk di teras, datang kakek yang langsung menyalami kami. Kakek tersebut bertanya nama, dan asal daerah kami. Tiba-tiba kakek tersebut nanya ke gue.

“Dek, kalau istrinya sabaraha?”

Hah? Istri?

Nikah aja belum, kok ditanyain istri. Ini gue yang salah denger atau kakek yang salah nanya sih. Atau jangan-jangan kita sama-sama salah dengar.

Pikiran gue melayang-layang, nikah, istri. Mungkin bentar lagi juga ditanya anak. Aduh gimana jawabnya yaaaah. Apa gue boong aja yaah.

Hening.

“Istrinya 7 kek” jawab Izet.

Hah 7? Kapan lu nikah zet?

Lu poligami yaah, sampe 7 istri, gile lu.

“Istrinya 7 orang, lalakina 4 orang, jadi jumlahnya 11 jalmi satu kelompok” lanjut Izet.

Ohhhhhhhhhhhhhhh,,, istri itu perempuan. Istri itu kata dalam Bahasa sunda halus yang artinya perempuan..

Yeaaaaah, kosa kata Bahasa Sunda gue nambah. Makasih kek.

Denger-dengar ada kelompok nagrak juga yang lagi survey. Kami ketemu sama mereka. Merka juga liat-liat rumah sederhana ini.

Setelah adzan ashar berkumandang, kami pamit pulang. Di belokan jalan utama, gue turun. Mereka berdua balik lagi ke Bandung dan gue mau balik ke Cirebon.

Daaaaa . . . . .  











3 comments:

  1. ihh parah kak umar mah, udah 3 tahun di bandung masih ga' ngerti bahasa sunda :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg itu sunda halus -_- dikampus biasaya awewe , taunya juga awewe -_-

      Delete
    2. yaa masa ga' pernah denger sih kak?? hahaa :p
      udah mulai kak KKNnya?

      Delete

Powered by Blogger.