12 Menit : Dreaming is Believing

Awalnya marching band ini diperuntukkan hanya untuk pegawai dan anak-anak para pegawai PT Pupuk Kaltim. Namun, marching band ini sekarang milik masyarakat Bontang. Siapa pun bebas menjadi anggotanya, asalkan memang punya, paling tidak sedikit saja, bakat bermusik dan kemauan.

Menjadi anggota cadet band adalah ujian pertama marching band Bontang Pupuk Kaltim. Karena bahkan saat masih di cadet band pun banyak yang bertumbangan. Padahal latihannya, ya, itu-itu saja. Latihan baris-berbaris dan latihan dasar-dasar bermusik.

Rene adalah lulusan fakultas Music Education and Human Learning di Amerika. Dengan berbagai prestasi yang diraihnya disana. Sekembalinya ke Jakarta, dia melatih marching band milik sebuah perusahaan yang dalam kepemimpinannya, marching band itu menggondol gelar Juara Umum di GPMB, tiga tahun berturut-turut.

Dengan curriculum vitae secanggih ini, wajar jika sebuah perusahaan besar lain nekat menarik Rene membina timnya.

Saat PKT meminangnya, Rene tak langsung setuju. Saat itu, ayahnya baru saja meninggal karena sakit kanker hati. Ibunya, setelah mendampingi beliau selamat tiga puluh tahun, tentu saja terpukul. Rene pun khawatir meninggalkan ibunya sendiri. Tetapi saat sang ibu tahu keputusannya, beliau berkata, “Nah, gitu dong, Nak. Jangan Cuma anak Amerika sama Jakarta saja yang kamu tolongin. I’ll come visit. Don’t worry too much about me.” Dari sinilah, sekarang Rene menjadi pelatih Marching Band Bontak Pupuk Kaltim.

Elaine, sejak kecil tahu persis apa minatnya. Tanpa ragu, dia meyakini bahwa dia bahagia berada di sekitar musik. Dan, Tuhan begitu baik padanya. Dia menitiskan sedikit keajaiban-Nya ke jemari Elaine, sehingga hampir alat musik patuh pada jemarinya. Kini usianya lima belas tahun. Murid sekolah internasional di ujung selatan Jakarta itu baru saja masuk kelas sepuluh, setara dengan kelas 1 SMA. Elaine suka sekali dengan sekolahnya. Dia begitu mengenal bangunan itu, setiap lorongnya, setiap corak di lantai keramiknya. Sekolahnya memiliki auditorium musik secantik dan selengkap ini. Guru-gurunya lulusan sekolah musik ternama di dunia, pemain-pemain orchestra dari London dan Wina.

Namun, semua itu harus dia tinggalkan. Baru seminggu yang lalu, Josuke ayah Elaine mengabarkan bahwa dia diminta perusahaannya untuk pindah ke Bontang. Dalam hati sebenarnya Elaine enggan. Namun, dia dan ibunya tak bisa bertanya terlalu banyak atau berpikir terlalu lama.
Elaine tak tahu apakah dia masih bisa meneruskan kecintaannya pada musik. Tapi dia pernah dengar kalau Bontang juga punya beberapa marching band.

Balikpapan. Elaine melangkahkan kaki sepanjang tepi landasan pesawat terbang. Bandara ini tak sebesar bandara di Jakarta, dan tak seramai itu tentunya. Elaine duduk di dalam pesawat. Ini pesawat khusus yang melayani pegawai-pegawai perusahaan tertentu. Pesawat ini juga yang membawa Elaine, ayah dan ibunya menuju Bontang.

Tara yang sudah hampir setahun menjadi anggota cadet band. Akhirnya bisa ikut audisi masuk dalam tim inti. Rene menyebutkan intro sebuah lagu, dan meminta Tara memainkannya. Tara menguasai rudiment yang dibutuhkan komposisi itu. Inilah kesempatan Tara masuk tim inti. “Tapi, kamu akan diperlakukan sama persis dengan yang lain” ujar Rene tajam.

Di saat yang sama, Elaine juga ikut audisi. Awalnya dia tidak mau main di pit, maunya jadi field commander. Namun, setelah ditanya-tanya oleh Rene dan mencoba main marimba. Kebetulan marching band ini sedang butuh orang di front ensemble karena baru saja ada yang keluar. Dan Field Commender sudah diisi oleh Ronny.

Upacara pengobatan telah selesai. Orang berduyun keluar dari rumah adat. Lahang menunggu dengan tak sabar sampai lihat bapaknya muncul, disusul si Pemeliatn dan kelompok penari.
“Bapak masih bisa sembuh, kan, Pemeliatn? tanya Lahang.
“Lahang, bapakmu akan segera bebas dari rasa sakitnya,” ujar Pemeliatn singkat. Lahang tersenyum pada bapaknya dengan mata berbinar-binar.

Elaine meminta izin kepada ayahnya. Awalnya ayahnya tidak mengizinkan Elaine ikut marching band. Namun setelah dibujuk berapa lama, ayahnya mengizinkan tetapi dengan syarat nilai pelajarannya sembilan lima dan juga harus pulang sebelum jam tujuh.
Hari ini tepat seminggu Tara bergabung dengan tim inti. Di satu sisi, Tara bangga sekali. Namun, tak bisa tidak, dia terpaksa mengaku bahwa ternyata kenyataan tak semudah yang dia bayangkan. Saat berusia 12 tahun, Tara sudah menguasai teknik bermain drum. Berbagai kejuaraan dia ikuti, dan walau tak selalu juara I, Tara tak pernah tidak membawa pulang catatan prestasi. Orang tuanya bangga betul kepadanya.

Sampai, saat kecelakaan yang membuatnya kehilangan sang ayah terjadi. Tara kehilangan pendengarannya, hanya tersisa sepuluh sampai dua puluh persen saja, sehingga dia harus menjalani berbagai terapi.

Sudah hampir 3 tahun Tara beradaptasi dengan alat bantu dengarnya. Ibu Tara dapat beasiswa S2 di sebuah Universitas di Inggris. Makanya ibunya pergi, dengan janji akan mengembalikan pendengaran Tara sepulang dari Inggris.

Sejak kondisi bapaknya turun drastis, Lahang jadi khawatir meninggalkan bapaknya sendiri di rumah. Ibu Lahang sudah tak ada, meninggal tiga tahun yang lalu. Dengan sisa tabungan yang tak banyak, serta sedikit uang sumbangan para tetangga, mereka ke dokter. Ke beberapa dokter umum, tepatnya. Sampai akhirnya dirujuk ke dokter syaraf dan dokter ini menyarankan berbagai tes, CT Scan, MRI, PET Scan, dan biopsi. Saya khawatir ada sel ganas di otak bapak, ujar dokter lembut waktu itu. Beberapa bulan yang lalu.

Apel malam baru saja berakhir, setelah seluruh tim marching band bermain full band. Akhirnya, sebagian besar anggota marching band langsung berpencar pulang. Rene selalu menjadi orang yang terakhir pulang dari stadion. Dia sedang berlatih di drumpad ketika seseorang mengintip dari luar. Tara. Tara berbicara dengan Rene tentang keberhentiaannya ikut marching band karena kata-kata Rene yang menyinggung perasaannya saat latihan tadi.

Elaine yang satu sekolah dengan Tara dan Nurani terpilih ikut Olimpiade Fisika. Namun jadwalnya bentrok dengan GPMB. Dilema sekali Elaine dengan ini.
“Lebih penting mana sih Ma? Olimpiade atau marching band?” Tanya Elaine. Ibu Elaine merangkul pundak anaknya, “Yang mana saja yang membuat kamu bahagia, sayang.” Dengan hangat, Elaine lingkarkan lengan di pinggang ibunya.

Pagi hari, sebuah jip besar berwarna hijau (mobil Rene) melintasi ke tepi sebuah rawa, dan berhenti dekat akar-akar bakau yang menjalar sampai ke daratan. Mesin mobil berhenti berderum. Rene dan Rosmina keluar dari masing-masing pintu. Tujuannya adalah menjenguk bapak Lahang. Di tengah perjalanan, tepatnya di ujung dermaga yang panjang, berkumpul beberapa stafnya---Yahya, Jenny, Hilda, Heri---serta beberapa anggota tim inti marching band! Elaine, Nurani, Wasil, Citra, Dewi, Hudri, Novwan, serta beberapa anggota colour guards---teman-teman Lahang. Mereka bersama-sama ke rumah Lahang. Mereka terus berjalan sampai pesisir pantai agak berbelok, dan dibalik tikungan itulah terlihat keramaian. Mereka menemukan Lahang dan bapaknya yang menggelimpang dengan mata terpejam di balik keramaian tadi. Bapak Lahang dibawa masuk ke sebuah rumah tak jauh dari situ. Mereka masuk dan mendapati Lahang bersimpuh di sisi dipan.

Elaine terkejut dengan pemandangan yang dia lihat di sekitar rumah itu. Pemandangan yang belum pernah dia lihat sebelumnya, sampah-sampah tersebar di sekitarnya, rumah yang sempit. Akhirnya, air mata Elaine menitik juga melihat semua ini.
Rene bertanya-tanya kepada Lahang mengenai penyakit bapaknya. Rene juga menawarkan bantuan jika Lahang mau ke rumah sakit, apapun bentuknya. Sebelum Lahang menyuguhkan makanan, Rene dan yang lainnya sudah mau pulang.

Di perjalanan pulang, mereka lebih banyak diam. Hal yang baru saja mereka lihat terjadi pada Lahang ternyata berkesan mendalam. Tiba-tiba ponsel Rene berdering kencang. Mendapat kabar bahwa Ronny kecelakaan. Dia terjatuh dari plafon rumahnya saat sedang membersihkan langit-langit yang kotor. Dan, dipastikan kakinya tak akan pulih dalam sebulan.

Kepusingan Rene berikutnya adalah menemukan pengganti Ronny. Mereka butuh field commender baru. Satu-satunya calon yang terpikir oleh Rene saat itu hanya Elaine. Setelah berembuk dengan staf-stafnya yang lain, akhirnya diputuskan Elaine yang akan menggantikan Ronny sebagai field commender.

Beberapa saat kemudian, di saat yang sama Elaine tahu kalau kak Ronny kecelakaan dan dia menceritakan kepada ibunya bahwa dirinya diminta jadi field commender.

Marching band adalah satu-satunya tiket anak-anak Bontang melihat dunia luar, Jakarta. Hari itu, Rene berkunjung ke sekolah Lahang. Dia menyampaikan maksudnya, hati-hati. “Lahang, saya tahu ini masa yang sulit untukmu. Makanya saya ke sini untuk bantu kamu. Jangan salah paham, saya bantu kamu bisa dapat keduanya: merawat ayahmu sekaligus tetap ikut ke Jakarta. Saya tahu, ke Jakarta adalah impian terbesarmu saat ini. Dan, impian almarhumah ibumu juga. Gambar Monas yang selalu kamu bawa-bawa itu dari beliau. Betul, kan?”

Hari itu Elaine menghadap kepala sekolah dan mengungkapkan keputusannya. Walaupun berat tapi dia harus memilih salah satu, bukan salah satu lebih penting dari yang lainnya. Dia hanya memilih apa yang memang harus dipilih. Dia lebih memilih marching band, karena kebetulan saja, marching band sudah lebih dulu dia mulai. Dia tidak mungkin mengecewakan teman-temannya di sana.

Tara yang beberapa hari kebelakang sempat mengundurkan diri dari marching band. Akhirnya karena nasihat oma dan opanya, Tara bisa berangkat latihan kembali bersama yang lainnya.
Elaine tidak pernah memberitahukan kepada ayahnya tentang dirinya yang terpilih ikut Olimpiade Fisika. Inilah yang membuat ayahnya marah besar. Sampai-sampai ayahnya mendatangi Elaine saat dia latihan dan bertemu dengan Rene. Mereka berdisikusi tentang pilihan Elaine, tetapi ayahnya tetap tidak mengizinkan. Namun keputusannya ada pada Elaine.

Rene pusing sekali. Bagaimana tak pusing hari sudah jam sepuluh. TC sudah dimulai sejak sejam lalu. Dan, beberapa orang masih belum tampak wujudnya. Malam ini seluruh Bontang akan hadir di sini, Stadion Mulawarman. Mereka menamainya “Malam Pelepasan”, dan warga Bontang akan datang menonton kesiapan anak-anak ini menghadapi GPMB. Wali kota beserta jajaran Pemerintah Kota diundang. Pejabat perusahaan-perusahaan diundang. Tak lupa ayah Elaine diundang. Dan, yang paling penting, rakyat pun diundang. Namanya dan nama anak-anaknya dipertaruhkan di sini.

Di saat yang bersamaan. Lahang yang saat itu sudah mengenakan seragam marching band dan seharusnya sudah berangkat ke stadion, berlutut di lantai, di kepala dipan. Separuh menangis melihat bapaknya yang kejang-kejang. Namun beberapa saat kemudian bapaknya sudah mulai siuman dan ditemani Pemeliatn di sampingnya. Akhirnya dia berlari kencang-kencang menuju stadion.

Stadion telah mulai disesaki pengunjung. Berita tentang seorang pemain battery yang tak bisa mendengar ternyata telah beredar. Ini salah satu yang mereka tunggu. Tetapi Elaine belum datang juga waktu itu. Tidak ada pilihan selain Ronny yang akan jadi field commender. Namun ketika Ronny sudah berada di atas podium dan sudah memberi salam ke penonton. Seseorang melangkah anggun melintasi arena. Melintasi para pemain brass: Elaine; dalam seragam merah emasnya. Dia berjalan tegap menuju podium dan menggantikan Ronny di atas podium.

Setelah selesai gladi resik, Elaine menghampiri ayahnya, dan tetap ayahnya tidak megizinkannya ke Jakarta. Elaine tak tahan lagi. Tersedak isaknya sendiri, dia bergegas meninggalkan tempat itu dan berlari menuju mobilnya. Saat itulah mata Josuke tertumbuk pada sesuatu yang melayang jatuh ke lantai. Sarung tangan Elaine. Di kamar Elaine, Josuke mengembalikan sarung tangan yang tadi jatuh ke lantai. Inilah yang membuat Josuke mengizinkan Elaine berangkat ke Jakarta. Sarung tangan itu membawa Josuke ke suatu masa, berbelas tahun lalu. Elaine masih lima tahun kala itu.

Dua bus besar beringsut pelan memasuki lapangan parkir bandara. Lapangan parkir yang sebenarnya cukup besar itu langsung penuh ketika seluruh penumpang dua bus itu turun. Berduyun-duyun mereka berjalan mendekati pintu keberangkatan sambil menenteng berbagai tas besar. Pesawat kecil ini hanya muat sekitar empat puluh orang saja. Sehingga mereka dibagi tiga kloter. 30 menit saja menuju Balikpapan. Jadi, pesawat ini akan bolak balik beberapa kali. 

Anak-anak rombongan Bontang berteriak kencang dan panjang begitu mereka menjejakkan tapak di Bandara Soekarno-Hatta. “Jakartaaaaa!!” Dua bus besar menjemput mereka di pintu kedatangan. Gaduh betul mereka; semringah sepanjang keluar Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, heboh saat menaikkan barang-barang dan diri sendiri ke dalam bus. Sepanjang perjalanan mereka disambut tontonan khas Jakarta: macet, gedung bertingkat. Monas pun terlihat oleh Lahang. Monas ibunya. Tugu ini mewakili seluruh impian ibunya pada Lahang; bahwa anaknya harus bisa punya harap setinggi langit, tetapi bersikap serendah hati bumi.

Sejak turun dari bus aroma persaingan di mana-mana, mengambang pekat di udara. Lapangan parkir Istora dipenuhi tim yang berlatih sectional (sendiri-sendiri). Mereka iri pada lawan-lawan mereka nanti, iri dengan kostumnya, benderanya dan yang lainnya. Mereka kalah sebelum bertanding. Lagi-lagi Rene memberikan motivasi pada mereka, “Kesalahan yang paling fatal adalah kalian sudah kalah sebelum bertanding. Berpikirlah kalah, maka kalian akan kalah. Kalau ingin menang, berpikirlah sebagai pemenang.”

Di tengah persiapan, Pak Manajer – Bimo, mantan pacar Rene di SMA- menerima kabar bahwa bapak Lahang meninggal dunia. Membuat Rene dan Pak Manajer berselisih. Pak Manajer ingin Lahang pulang saat itu juga. Rene bersikeras Lahang bisa ikut bertanding, karena menurut Rene, Lahang pulang sekarang atau nanti, toh, nggak ada bedanya. Dia sudah jauh-jauh datang ke sini. Setahun dia latihan. Kalau dia pulang sekarang, apa yang bisa dia bawa?? Ini kesempatannya membawa pulang piala. Bapaknya memang tidak pernah melihatnya. Tapi, piala itu akan membuatnya selalu ingat bahwa pada satu waktu dalam hidupnya dia lakukan sesuatu yang dia pikir tak mungkin dia lakukan.

Lahang menangis di pangkuan Toby. Ketika itu, seekor elang berputar rendah, persis di atas orang-orang ini. Berputar dengan sayap terentang diam. Hening. Lahang menatap elang itu tanpa kedip. Hening justru jadi pekak di telinganya. Tak mungkin, pikirnya. Bapak, kau kah itu? Elang itu menjawab pertanyaannya. Lahang yakin sekali telinganya tak salah.
Di hidupku yang berikutnya, aku ingin menjadi elang.
“Kaukah itu?” tanya Lahang.
Terbang yang tinggi, Lahang. Terbang yang jauh. Seperti elang.
Lahang terpaku. Sesuatu dari dalam Lahang mendesak-desak, lalu menerobos keluar, dan tersimpulkan dalam kalimat, “Saya harus bertanding, Kak”. Lahang tiba-tiba kaget sendiri mendengar suaranya. Rene dan yang lainnya mendukung jika Lahang akan terus ikut bertanding.

Barisan gagah anak-anak berseragam biru-hitam dan garis perak duduk bersesakan di bangku-bangku panjang, melingkar mengelilingi Rene yang berdiri di tengah-tengah mereka. Mata mereka lekat pada Rene yang berbicara dengan suara tenang dan dalam.
“Siapa pun kita, dan di mana pun kita sebelumnya, di sinilah kita sekarang. Di tempat yang sama. Dengan impian yang sama. Ribuan jam kita perjuangkan, demi dua belas menit ini. Demi orang-orang yang duduk di sebelah kita. Tataplah mereka. Dan, katakan bahwa mereka bisa bergantung padamu. Dan kenanglah dua belas menit ini untuk selamanya.”

Di sisi lain stadion itu, para anggota Marching Band Bontang Pupuk Kaltim berbaris tegap di depan pintu masuk, siap dipanggil kapan pun oleh pembawa acara.

Di luar stadion, di depan loket tiket, wanita berkoper terkesiap. Setelah mengalami kejadian yang sial menimpa wanita itu. Wanitu itu ibu Tara. Akhirnya bisa mendapatkan tiket dan wanita itu menyelinap memasuki salah satu lorong sempit yang merupakan jalan masuk ke dalam arena.

“Dan selanjutnya! Dari Bontang Kalimantan Timur. Inilah dia! Marching Band Bontaaang Pupuk Kaltim!” suara pembawa acara.

Lahang merasa tubuhnya berputar ringan. Berbagai kenangan akan bapaknya berkelebat saat dia pejamkan matanya sesekali. Dan inilah saatnya. Putaran keramat itu; dua puluh fouettes yang selama ini selalu menjadi momok baginya. Dia berhasil melakukan fouettes dengan baik. Spontan penonton bertepuk tangan untuk Lahang. Dan, permainan marching band itu berakhir dengan dentaman yang meremangkan bulu kuduk. Sontak, seisi stadion berdiri gemuruh. Teriakan “Vincero!” terdengar di seluruh penjuru stadion.

Selesai sudah dua belas menit mereka. Kerja keras mereka selama dua belas bulan terangkum sudah di dua belas menit tadi. Apa pun yang terjadi setelah ini, hidup mereka tak akan sama lagi.

Beberapa jam kemudian.

Selintas juri membacakan hasilnya. Pembacaan terus berlangsung, sampai akhirnya, “JUARA KETIGA ... “ sebuah universitas berhasil menggondol gelar itu.

Selanjutnya, “JUARA KEDUA …” Dan, gedung kembali digemparkan oleh teriakan berdesibel tinggi.

“Maka juara umum GPMB tahun ini adalah …… MARCHING BAND BONTANG PUPUK KALTIM!!!”

Sambil menggigit bibir dalam-dalam, Lahang mengepalkan tangannya. Dia pulang sebagai pemenang. “Teruskan terbangmu, anakku. Taklukan tugu-tugu tinggi di dunia.”

Di dalam stadion suasana jauh dari tenang. Seluruh anggota dan pendukung marching band Bontang Pupuk Kaltim berhamburan ke lapangan. Saling memeluk. Saling menepuk. Larut dalam kebahagiaan. Tak terkecuali ayah Elaine dan Ibu Tara memeluk anaknya masing-masing di bawah confetti yang bertaburan seperti kepingan salju.

Dreaming is believing. Dan bersama-sama mereka menyerukan, Vincero!


No comments:

Powered by Blogger.