Indahnya Menolong

Sebagian orang hafal sekali dengan tanggal merah, hari libur. Apalagi jika tanggal merah tersebut berdekatan dengan weekend. Seperti hari jum’at, senin. Jadi bisa long weekend, liburnya lumayan panjang. Long weekend ini bisa digunakan untuk berlibur, refreshing dari penatnya rutinitas sehari-hari, bisa juga digunakan untuk pulang kampung. Seperti Yusuf, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung yang dengan sengaja pulang ke kampung halaman untuk melepas kerinduan kepada orang tuanya. Tak lupa juga kepada keluarga dari ibunya.

Berkumpul dengan keluarga adalah waktu yang sangat istimewa buat Yusuf. Hari itu Yusuf berkumpul bersama keluarga dari ibunya. Karena saudara-sudara Yusuf yang juga berada di luar kota pulang kampung. Suasana hangat menyelimuti keluarga besar Yusuf.

Yusuf merupakan cucu laki-laki yang paling tua. Sehingga kerap kali pakde dan budenya mempercayainya melakukan sesuatu. Seperti waktu itu, Yusuf diberi amanah membeli makanan untuk makan bersama. Ketoprak dan bubur sop menu yang akan disajikan. Dengan senang hati Yusuf melaksanakan amanah tersebut. Ia diberi sebuah kunci sepeda motor untuk melaksanakan amanah yang sudah diembannya. Dengan segera Yusuf menyalakan sepeda motor dan melaju ke tempat yang dituju. Sebuah tempat yang di sisi jalan ada beberapa pedagang yang sedang mengais rezeki.

Sesampainya di tempat tersebut, Yusuf tidak melihat penjual bubur sop yang sudah menjadi langganannya. Mungkin karena waktu yang masih terlalu siang, penjual belum menjajakan bubur sopnya. Atau mungkin karena hari itu sedang tidak berjualan. Yusuf memutuskan kembali melanjutkan perjalanan ke tempat lain untuk membeli ketoprak.

Ketika sudah membeli lima bungkus ketoprak, Yusuf kembali ke tempat penjual bubur sop. Ternyata tetap nihil. Ini berarti sedang tidak berjualan. Akhirnya, Yusuf pulang ke rumah guna menanyakan apakah bubur sopnya beli di tempat lain atau tidak jadi beli dan digantikan dengan makanan lain.

Ketika sudah mendekati rumah, Yusuf melihat ada seorang ibu-ibu yang berdiri tepat di depan rumahnya. Masuk ke rumah, menemukan jawaban membeli di tempat lain saja kata pakde nya. Kembalillah Yusuf melajukan sepeda motornya. Namun tepat ketika hendak berangkat, ibu yang berdiri di depan rumah langsung menghampirinya dan meminta bantuan kepadanya untuk diantarkan ke jalan raya yang dilalui angkutan umum. Tanpa diperintah oleh Yusuf, ibu itu langsung naik di belakang. Yusuf mengiyakan dan membonceng ibu tersebut.

Baru beberapa meter motor melaju, ibu itu langsung bertanya.

“Siapa namanya mas?”

“Nama saya Yusuf bu” jawab Yusuf.

“Ibu minta tolong yaa mas, anterin ke jalan raya yang dilalui angkutan umum karena dari tadi ibu nungguin tidak ada angkot yang lewat mungkin sudah sore kali yaah” tutur ibu itu.

“Iya bu. Ibu dari mana?”

Kemudian ibu itu bercerita.

“Asal ibu dari sindang laut mas. Ibu habis jualan koran mas buat menghidupi anak-anak. Suami ibu tidak ada. Jadi, ibu yang harus menafkahi mereka, agar mereka bisa bersekolah seperti teman-temannya”

“Jualan koran penghasilannya lumayan. Yaaa, buat mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak” lanjutnya.

“Oh iya bu, syukurlah”

“Mas nya masih sekolah atau gimana?” Tanya ibu itu lagi.

“Saya kuliah bu. Kuliah di Bandung” jawab Yusuf.

“Ohhhhh , ngambil jurusan apa mas?”

“Pendidikan Kimia bu”

Dalam setengah perjalanan, ibu itu membuka tas. Tangannya merogoh ke dalam tas seperti ada sesuatu yang ingin diambil.

Saat itu juga hati Yusuf mulai gelisah dan takut. Pikirannya dipenuhi prasangka-prasangka buruk. Seperti, "jangan-jangan ibu itu mengambil pisau atau sesuatu benda tajam kemudian mengalungkan ke leher saya". Bayangan seperti itu muncul dalam pikiran Yusuf. Namun, dia meyakinkan dirinya sendiri. “Saya kan niat menolong ibu ini, Allah juga pasti menolong hambanya yang berbuat baik”. Hati Yusuf sedikit lebih tenang, hingga akhirnya tiba di tempat tujuan.

Bersamaan turun, ibu itu bilang.

“Yaudah mas, saya saja yang mengalah, ini buat mas”

Apa yang ibu kasih kepada Yusuf?

“DUA LEMBAR UANG PECAHAN SERATUS RIBU RUPIAH”

Ibu itu ngasih kepada Yusuf uang sebesar dua ratus ribu rupiah. Jumlah uang yang sangat besar dengan jarak mengantar ibu itu tidak jauh.

Seketika Yusuf terdiam. Terheran-heran. Bingun menerima atau menolaknya.

“Ini mimpi atau nyata yaah?”

Segera Yusuf menolak pemberian dari ibu.

“Enggak bu, makasih. Nggak apa-apa”

Sebenarnya Yusuf ragu-ragu. Namun karena niat awal Yusuf adalah ikhlas ingin menolong ibu itu, supaya bisa pulang ke rumahnya. Mulut Yusuf seketika menolak pemberian ibu itu.
Di samping itu ada perasaan takut uang tersebut ada apa-apanya atau ada guna-guna. Seperti tumbal untuk pesugihan dan lain-lain.

“Yaudah, ini ada uang kecil mas” lanjut ibu itu sambil memegang uang sebesar dua puluh ribu rupiah dan memberikannya kepada Yusuf.

Lagi-lagi Yusuf menolaknya.

“Nggak usah, nggak apa-apa. Makasih bu”

“Oh yasudah. Rumah mas yang tadi kan?”

“Iya bu. Rumah saya yang tadi”

“Makasih yaa mas”

“Iya bu, sama-sama”

Akhirnya, Yusuf pulang sambil memikirkan dan merenungkan kejadian yang baru saja dia alami. Antara rezeki dan tidak bersyukur menolak pemberian ibu itu. Namun, hati Yusuf benar-benar merasakan indahnya menolong bukan karena ingin imbalan, tetapi karena niat ikhlas ingin menolong sesama.

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran". (Al-Maidah: 2).

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.” (Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)

No comments:

Powered by Blogger.