Masa Kecil Sangat Bahagia

Masih ingatkah waktu lo masih kecil? Masih jadi manusia yang tak berdosa. Masih suka nangis-nangis. Walaupun sekarang juga masih sering nangis, gara-gara pacar, galau. Waktu lo masih ingusan? Masih ngusap ingus di keramain orang tanpa merasa malu. Waktu minta sesuatu ke orang tua secara paksa. Masih ingat nggak? Bahagia kah? Atau kurang bahagia? Atau malah tak ada cerita waktu masih kecil?


Kalau gue sendiri sedikit-sedikit ingat gimana waktu gue masih kecil. Karena sering diingatkan orang tua tentang masa kecil. Ada tetangga yang menceritakan gue kecil dan ada juga yang ‘mengejek’ keanehan gue waktu kecil. Terima kasih sudah mengingatkan tentang masa-masa bahagia J.
Kata orang tua dan tetangga yang ngasuh gue. Sebenarnya gue anak siapa sih kok diasuh tetangga? Yaps, yang ngasuh gue bukan hanya orang tua gue aja, tapi tetangga gue juga ikut ngasuh. Maksudnya kalau main, belajar, jalan-jalan, biasanya sama tetangga.
Kata mereka. Waktu kecil, gue itu orangnya nakal, nakalnya pake banget. Kenakalannya pun bukan sekali tapi beberapa kali. Ketika ada orang yang main ke rumah dan hendak mau pulang, gue larang. Apapun alasannya, pokoknya nggak boleh pulang. Sadis kan? Lebih sadis dari kasus mutilasi. *gak nyambung.

Kalau gue pengen mainan, yaa harus beli waktu itu juga. Pokoknya kalau pengen ini pengen itu harus dibelikan waktu itu juga. Walaupun yang jualnya udah pergi jauh. Tetap harus dikejar. Dan kalau nggak dibelikan marah-marah sampai nangis, lemparin barang-barang di rumah. Untung nggak sampai bakar rumah. Kalau gue dimarahin orang tua, biasanya ngunci diri di kamar sambil nangis, atau mengadu ke tetangga sebelah rumah.

Nggak di rumah aja gue nakal, di sekolah TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) pun gue nakal. Berangkat sekolah dianter nyokap naik angkot. Nunggu angkot depan rumah,  bayarnya masih 500 rupiah, jaman orde baru. Sampai di sekolah, ngaji harus pertama. Kalau nggak pertama yaa marah dan nggak mau masuk sekolah. Walaupun datangnya terlambat juga, pokoknya ngaji harus pertama. Titik. Nggak boleh ada yang mendahului.

Jadi, semuanya udah ngerti, nggak ada yang berani pertama, semuanya ngalah sama gue. Namun yang gue sayangkan adalah ketika akan diwisuda TPA atau khotmil Qur’an, gue nggak mau. Nyesel banget sumpah. Entah kenapa nggak mau di wisuda? Aneh banget emang, gue waktu kecil. Sekarang juga masih aneh sih. Kalau di wisuda kan setidaknya punya kenang-kenangan foto wisuda. Ah, sudahlah. Biar wisuda sarjana saja. Aamiin.
Sampai akhirnya umur 4 tahun, gue sering sakit-sakitan. Dan puncaknya adalah terkena penyakit demam berdarah. Waktu itu gue emang udah biasa mimisan (hidung berdarah). Namun kali ini berbeda, gue sering banget mimisan disertai dengan demam yang naik-turun-naik-turun.

Akhirnya, beberapa hari kemudian gue dibawa ke puskesmas terdekat.
Suasana puskesmas masih terlihat sepi. Petugas puskesmas baru berdatangan sambil membawa sesuatu dalam tasnya. Belum ada pasien yang mengantri. Dokter pun sepertinya belum datang. Ini terlalu pagi. Harus menunggu sejenak.

Beberapa saat kemudian, ruang pendaftaran pasien dibuka. Segera bokap gue melakukan pendaftaran, guna memeriksa keadaan anak laki-lakinya ini.

Tak perlu menunggu lama untuk bisa dipanggil dan masuk ke ruangan dokter.

Gue yang ditemani bokap langsung berjalan ke arah ruangan yang dituju. Yaitu, sebuah ruangan, tempat pasien diperiksa. Dengan segera dokter pun memeriksa gue. Menanyakan ke bokap gue apa yang dialami anaknya.

Akhrinya setelah memeriksa keseluruhan tubuh gue dengan melihat gejala-gejala yang dialami, dokter memvonis kalau gue terkena penyakit demam berdarah yang udah cukup parah dengan keluarnya darah dari hidung. Harus dirawat di rumah sakit. Tanpa ragu, tanpa kompromi, gue langsung dibawa dan dirawat di rumah sakit terdekat.

Namun apa yang terjadi di rumah sakit? Kenakalan gue berlanjut. Gue nggak betah di rumah sakit, dan pengen pulang. Karena di rumah sakit itu nggak bebas, nggak bisa main. Nggak bisa main kelereng, petak umpet. Apalagi waktu itu anak sekecil gue belum mengenal yang namanya gadget. Nambah deh kebosanannya. Padahal baru beberapa hari di rumah sakit.

“Pengen pulang aja pak, kalo nggak pulang kencing di sini” gue, sambil merengek.

“Iya sebentar ya nak, beberapa hari lagi juga pulang” jawab bokap gue.

“Nggak mau, pokoknya sekarang, kencing di sini nih”

Iya, gue ngancem ke semua orang yang ada di ruangan, kalau nggak pulang, gue kencing di tempat tidur. Mereka menganggapnya biasa aja, karena memang gue masih kecil. Dan beneran gue kencing di tempat tidur.

Untungnya kebiasaan ini nggak kebawa sampai gue dewasa. Kebayang kalau kebawa sampai dewasa. Ketika gue sakit, dibawa ke puskesmas, terus diperiksa, karena dokter meriksanya lama, tiba-tiba.

“Bu, pengen pulang aja, kalo nggak pulang, kencing di sini nih”
“ . . . “
Alhamdulilllah, akhirnya gue bisa pulang juga. Tuhan masih memberi kesempatan gue hidup, mungkin untuk memperbaiki kenakalan gue.

Masa-masa kecil gue lalui penuh dengan kebahagiaan dan kenangan manis. Semanis orangnya. Semanis yang baca juga deh, biar nggak protes.

Gue bersyukur lahir di sebuah pedesaan, jauh dari keramaian kota. Karena ini membuat gue punya banyak teman dan lebih akrab. Juga membuat gue lebih banyak bermain di alam. Alam memang menjanjikan ketenangan. Alam mengajarkan kita banyak hal. Yang gue maksud bukan alam yang nyanyi mbah dukun. Tapi alam yang diciptakan Tuhan untuk dikelola manusia dengan sebaik-baiknya.

Namun sekarang, alam tidak lagi bersahabat, bencana alam terjadi di mana-mana. Mungkin karena ulah manusianya sendiri yang seenaknya memperlakukan alam ini atau mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa. Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang. Hohoho . . Ouwohooo .#nyanyi.

Hampir setiap hari gue habiskan untuk bermain. Karena memang dunia anak adalah dunianya bermain. Naluri bermainnya itu tidak bisa dihalangi. 

Pagi hari, berangkat ke sekolah dan setelah pulang sekolah, lepas sepatu, lepas seragam, langsung kabur keluar rumah untuk main. Main kelereng, walaupun banyak kalah daripada menangnya. Sore harinya dilanjutkan dengan main bola di lapangan. Kadang juga main layang-layang di bawah terik panasnya sinar matahari yang membuat kulit gue seperti ini.
Mainnya musiman. Bulan ini musim layang-layang, bulan berikutnya kelereng. Karena nggak mungkin kalau lagi musim hujan, terus musim layang-layang. Malam harinya main petak umpet. Petak umpet merupakan sejenis permainan yang bisa dimainkan minimal 2 orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru. Kadang gue juga main permainannya anak perempuan, seperti bekel, lompat tali.

Namun, yang jarang adalah berenang di sungai. Gue jarang banget berenang di sungai. Nggak dibolehin sama orang tua berenang di sungai, katanya karena kotor. Padahal dulu nggak sekotor sekarang sih.

Dan ternyata efeknya gue rasakan. Gara-gara gue jarang berenang di sungai waktu dulu, gue jadi nggak bisa berenang sampai sekarang. Teman-teman gue bisa berenang. Coba aja kalau dulu gue sering berenang di sungai. Mungkin bisa jadi atlit renang kali yaah. Dan mungkin tingginya sudah mencapai 180 centimeter #ketinggian nggak yaah . . .

Sering juga kalau lagi main, gue berantem sama teman, cuma gara-gara sepele. Biasanya gara-gara kalah atau mainnya curang. Tapi yang selalu nangis adalah gue. Cengeng banget kan? Orang tua gue nggak marah sama teman yang berantem sama gue, juga nggak marah sama orang tuanya. Karena namanya juga anak-anak, wajarlah mereka berantem dan nangis, yang penting jangan sampai terjadi apa-apa. Besoknya juga baikan lagi.

Anak kecil yang tak berdosa yang sedang menikmati dunianya. Anak-anak memang mempunyai cara untuk menikmasti masanya, mengerucutkan dunianya kedalam beberapa kata seperti “bermain” “teman” “cerita” dan beberapa ungkapan lain tentang “kebahagiaan”
Itulah masa-masa kecil yang bahagia J

Dan akhirnya gue masuk Sekolah Dasar.

No comments:

Powered by Blogger.