Pemilu Bikin Ngilu

Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan salah satu pilar demokrasi sebagai wahana perwujudan kedaulatan rakyat guna menghasilkan pemerintahan yang demokratis. Pemerintahan yang dihasilkan dari Pemilu diharapkan menjadi pemerintahan yang mendapat legitimasi yang kuat dan amanah. Sehingga, diperlukan upaya dan seluruh komponen bangsa untuk menjaga kualitas Pemilu. Pemilu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, dan DPRD harus dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. 

Pemilu dapat terwujud dengan baik apabila seluruh komponen bangsa saling bahu-membahu mendukung pelaksanaan pemilu sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku. Pemilu juga seharusnya menjadi pijakan perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik setelah melihat pemerintahan sebelumnya. Arah pemilu ditentukan oleh semua masyarakat yang sudah memiliki hak pilih. Oleh karenanya rakyat sangat berperan penting dalam hal ini.

Ada beberapa partai yang mewarnai pemilu tahun ini. Dari kesemua partai bisa digolongkan kedalam dua basis, yang pertama partai yang berbasis nasionalis dan yang kedua partai yang berbasis islam. Setiap partai menyuarakan berbagai program dan kebijakan yang akan dilaksanakan jika mereka terpilih. Semua program dan kebijakannya adalah untuk menjadikan Indonesia lebih baik.

Setiap partai politik memiliki langkah strategisnya dalam berkampanye. Berbagai macam kampanye yang dilakukan partai untuk menarik suara masyarakat. Ada yang berkampanya secara nyata melalui kendaraan, ada yang melalui spanduk, poster, stiker, melalui media elektronik, media massa, dan yang baru-baru ini adalah melalui media sosial. Masyarakat kita sudah mengenal apa itu media sosial. Media sosial yang dulunya difungsikan untuk bersilaturrahim dengan orang-orang jauh kini merambah menjadi media marketing, media berbagi, media kampanye pemilu.

Tak jarang dalam berkampanye semua partai saling serang, saling menyudutkan sama lain, yang dulunya kawan sekarang menjadi lawan. Sampai kejelekan dan keburukan calonpun digali secara mendalam. Sebenarnya jika memang ingin menarik masyarakat, yaaaa unggulkanlah diri sendiri, tidak usah menyudutkan pihak lain. Alangkah lebih baiknya kita sebagai muslim tidak saling meyudutkan, terlebih lagi yang disudutkannya adalah sesama muslim. Bukankah dalam Al-Qur’an dijelaskan.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al Hujuraat [49] : 12)

Padahal tujuan semua partai dalam program-programnya adalah sama, yaitu ingin menjadikan Indonesia lebih baik. Yaah, seperti itulah intinya. Penulis sebagai rakyat Indonesia yang sudah memiliki hak pilih berharap fenomena ini, fenomena saling menyudutkan, saling menjatuhkan, saling serang dan saling mencari-cari kesalahan tidak berlanjut ketika pesta demokrasi telah selesai dilaksanakan. Namun, semua partai turut berkontribusi dan saling membantu, saling membahu menjadikan Indonesia lebih baik meskipun mereka tidak terpilih atau kalah dalam pemilu. Bukankah ingin menjadikan Indonesia lebih baik tidak selalu harus menjadi bagian pemerintahan? Bisa sebagai pengawas program-program yang dilaksanakan pemerintah atau bisa menyalurkan program-program kepada pemerintah.

Ada berbagai masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan pemilu. Salah satunya adalah mereka yang sudah memiliki hak pilih namun sedang tidak berada di tempat yang tertera dalam Kartu Penduduk. Akhirnya mereka memilih golput.

Penulis rasa golput bukanlah suatu pilihan yang terbaik. Mengapa? Karena dengan golput kita tidak turut andil dalam memilih pemimpin yang membawa Indonesia lebih baik. Logikanya seperti ini kita kan pengen Indonesia lebih baik tetapi kita sendiri tidak memilih pemimpin yang menurut kita baik. Kita sebagai orang yang berpendidikan dan sedikit tahu track record dari calon pemimpin, yaaa gunakan hak pilihnya, jangan sampai pemimpin dipilih orang rakyat yang belum sepenuhnya tahu calon pemimpin yang dipilihnya hanya dengan janji-jani yang diumbar saja.

Tapi kan pemimpin-pemimpin jika sudah terpilih mereka lupa dengan janji-janjinya, jadi mending golput aja. Hey, hey, yaaaa setidaknya kita sudah berusaha memilih pemimpin yang menurut kita amanah. Urusan setelah mereka terpilih kemudian tidak bertanggung jawab atas janjinya adalah urusan mereka dengan Tuhannya. Kita hanya bisa berusaha dan berdo’a, semoga pemimpin yang kita pilih benar-benar bisa amanah atas apa yang telah disampaikannya dengan mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan dan pribadinya sendiri.


Ada lagi fenomena yang menarik dari pemilu, yaitu diberitakan sebelum pemilu beberapa Rumah Sakit Jiwa daerah sudah menyiapkan untuk calon yang gagal dan mengalami depresi, stress, sedikit gangguan jiwa akibat kegagalan dalam pemilu. Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai fenomena maraknya caleg stres karena mereka tidak siap mental dan tidak mengukur kemampuan diri. Sosialisasi kampanye yang menghabiskan dana besar dan tekanan sosial menjadi penyebab utamanya. Dia melihat, selama ini tujuan seseorang menjadi anggota legislatif adalah karena tergiur gaji yang besar, dan menguntungkan dari sisi pendapatan. Sehingga mereka rela merogoh 'kocek' sampai ratusan juta bahkan miliaran rupiah selama kampanye. Para caleg tersebut merasa uang yang dikeluarkan selama masa kampanye akan bisa kembali dalam waktu sebentar setelah mereka menjabat. 

Akibatnya saat mereka gagal terpilih potensi mengalami guncangan kejiwaan sangat tinggi.

Oleh karenanya, caleg harus siap mental dan mumpuni kemampuannya. Jika tidak, pemilu bikin ngilu buat caleg yang gagal. J

No comments:

Powered by Blogger.