Aku Sakit

Seperti apa yang dikatakan Desi tentang karakter dan kepribadianku. Aku bukan introvert, juga bukan extrovert. Aku diantara keduanya. Aku bukan orang yang tertutup, bukan juga orang yang terbuka. Aku diantara keduanya. Aku bisa menjadi sangat terbuka jika ditanya, namun jika tak ditanya aku menjadi orang yang tertutup.

Sebenarnya aku ingin menceritakan tentang penyakit yang aku derita ini malam itu. Yang membuat aku rewel harus bangun pagi, yang pagi-pagi nyari makanan, sahur lebih awal. Yang tiap sahur harus minum obat. Yang setiap minggu harus bolak balik Sumedang-Bandung. Rutinitas minum obat seperti itu harus aku lakukan selama enam bulan atau setara dengan satu semester. Tak apalah, ini adalah salah satu ikhtiarku dalam penyembuhan sakit ini.

Namun malam itu tak ada celah untuk menceritakan dan tak ada pertanyaan yang secara khusus tertuju ke sakitku ini.

Tahun 2012, aku mengeluhkan tentang berat badanku yang tak kunjung naik, justru malah kadang menurun padahal nafsu makan terjaga, makan teratur. Porsi makanku pun seperti kuli. Aku tak batuk, tak demam, tak juga keluar keringat dingin di malam hari. Aku mengeluhkan ini ke dokter yang bertugas di poliklinik kampus.

“Jika seperti ini, mungkin ada masalah pada paru-paru. Coba nanti diradiologi di lab terdekat”

Dokter menganjurkan untuk melakukan pemeriksaan radiologi di laboratorium. Namun aku menghiraukan, aku mengacuhkannya, aku merasa tidak ada yang sakit pada paru-paruku, tak batuk-batuk, tak sesak. Lambat laun, aku tidak merasakan apapun. Tapi berat badanku tak kunjung naik.

Sampai akhirnya tahun 2013 tiba-tiba aku batuk, dahak yang keluar dari mulutku berwarna merah pekat, ternyata darah. Dahakku berdarah. Awal-awal aku menghiraukannya, pikirku ini darah yang berasal dari hidung (mimisan) karena tak jadi keluar, akhirnya keluar melalui mulut. Esok dini hari aku terbangun dari tidur lelap oleh rasa tak enak dalam saluran mulut. Sehingga batuk-batuk, ku keluarkan dahaknya. Berdarah kembali. Ya Tuhan, ada apa ini? Aku sakit kah? Sakit apa? Aku harus segera ke dokter, memeriksa yang aku alami. Kebetulan hari itu hari minggu artinya poliklinik kampus tidak melayani. Poliklinik yang menjadi andalan. Selain itu poliklinik kampus lah yang tahu riwayat sakit yang aku alami. Aku cari selain poliklinik kampus, berkelililng daerah sekitar kost ku. Dari satu poliklinik ke poliklinik lain, dari satu dokter ke dokter lain. Akhirnya menemukan poliklinik siaga yang buka setiap hari 24 jam. Dokter yang memeriksa menanyakan yang terjadi pada diriku. Apakah aku demam, keluar keringat dingin, batuk-batuk sebelumnya. Aku tak mengalami itu semua.

“Oh ini mungkin luka pada tenggorokan” kata dokter.
“Minum aja obat yang dikasih”
“Jika masih berdarah segera ke dokter spesialis atau ke rumah sakit”

Aku pulang dengan membawa beberapa obat untuk beberapa hari yang dianjurkan dokter beserta resepnya.

Keesokan harinya, di kampus pun tak tahan untuk mengeluarkan dahak berdarah. Aku masuk ke toilet dan mengeluarkan darah dari mulut cukup banyak yang membuat teman-teman terheran. Kenapa kamu mar? Udah ke poliklinik belum?

“Nggak apa-apa, udah ke poliklinik kok” jawabku

“Terus gimana?”

“Kata dokter aku nggak apa-apa, ada luka di tenggorokan katanya” lanjutku.

Dua hari berikutnya tanda-tanda pendarahan dalam mulut mulai berhenti. Dahak tak lagi berwarna merah pekat. Mulut dan tenggorokan sudah mulai terasa nyaman kembali. Aku berkesimpulan aku tidak apa-apa dengan habisnya obat dari poliklinik.

Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan aku tak merasakan lagi sakit itu. Aku merasa sehat. Tetapi berat badanku tak kunjung bertambah, tetap segitu. Tetap istiqomah, jarum pada timbangan tak beranjak naik, bahkan mungkin sesekali menurun.
Sebelum pelaksanaan KKN dan sebelum pulang ke Cirebon aku sempatkan untuk silaturahim ke rumah tante. Aku bermalam di rumah tante. Pagi hari, tiba-tiba tenggorokanku sakit yang membuatku batuk-batuk. Ada sesuatu yang ingin keluar dari mulut. Aku keluarkan di toilet, ternyata darah. Hingga dua kali darah keluar.

“Kamu batuk-batuk mar? udah periksa belum? Nanti periksa yah” Tante

“Iya tante, ini berdarah, tapi nggak apa-apa mungkin luka pada tenggorokan. Soalnya pernah juga ngalamin seperti ini” jawabku.

Meskipun aku menganggap ini tak apa-apa, tetapi tetap harus diperiksa guna memastikan sakit ini. Aku memilih periksa di poliklinik kampus daripada di dokter atau poliklinik di Cirebon. Karena poliklinik kampus yang mengetahui riwayat sakit yang pernah kualami.
Aku pergi ke poliklinik kampus yang jaraknya tak jauh dari kostku. Mengeluhkan sakit yang aku rasakan. Dokter kembali menganjurkan untuk pemeriksaan dalam. Kali ini memberikan surat rujukan ke laboratorium terdekat.

“Kalu ada surat rujukannya begini, tak bisa main-main, aku harus memeriksanya” pikirku.

Ada dua tes yang dilakukan, yang pertama adalah test manthoux. Dengan memasukan cairan melalui suntikan yang disuntikkan ke tangan kiriku. Test ini bereaksi 3 x 24 jam, artinya tiga hari. Bagian yang disuntikan tidak boleh terkena bahan kimia, seperti sabun dll, tidak boleh digaruk. Test ini untuk mengetahui alergi obat yang diderita pasien. Test yang kedua adalah radiologi. Untuk mengetahui bagian dalam, paru-paru dan jantung. Untuk test radiologi hasil bisa diambil 24 jam kemudian, sedangkan test manthoux diambil tiga hari kemudian. Aku memilih mengambil hasil keduanya tiga hari kemudian.

Setelah aku ambil hasil test keduanya, dalam perjalanan pulang aku intip hasilnya, aku ingin melihatnya sebelum aku serahkan kepada dokter. Solatif yang menempel aku buka perlahan, ada dua sesuatu dalam kantong kertas itu. Yang satu plastik berwarna hitam gambar dari bagian dalam dadaku, yang satu lagi kertas berwarna putih, ini hasil dari testnya.

Aku mengambil kertas putih itu, kertas yang menjadi tolak ukur apakah aku mengidap penyakit atau tidak. Aku baca hasilnya.

THORAX PA (Digital)
Cor,sinuses dan diafragma        Normal.
Pulmo                                      Hili normal. Corakan paru bertambah. Tampal infiltrate di
apex dan lapang atas kedua paru
Kesan                                     TB paru aktif.

Seketika tubuhku lemas setelah membacanya. Ternyata aku mengidap penyaklit TB paru aktif atau yang biasa dikenal dengan TBC. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Bahkan ada program nasional obat gratis untuk penyakit ini. Buku panduan nasional pun ada tentang penyakit ini.

Sesampainya di kost, aku melamun, berdiam diri, merenungi apakah penyebabnya? Mungkin gaya hidup yang kurang sehat, kurang olahraga, atau tertular oleh seseorang yang memiliki penyakit ini, karena penyakit ini sifatnya menular. Tuhan menakdirkan sesuatu tidak harus ada penyebabnya tetapi pasti ada maksud dan tujuannya.

Aku menelepon kedua orang tua, memberi kabar kepada mereka bahwa aku sakit TBC, aku harus minum obat selama enam bulan berturut-turut. Setelah kedua orangtua, aku kabarkan kepada perempuanku nun jauh disana melalui telepon seluler. Aku bercerita kepadanya tentang sakit yang aku derita ini, awal mulanya sampai akhirnya seperti ini. Dia yang kuliah di kedokteran seangkatan denganku mengetahui sebagian kecil tentang penyakit ini. Temannya dia juga dulu mengidap sakit TBC. Dia menceritakan temannya yang sakit TB itu, harus minum obat tepat waktu selama enam bulan, misal 24 jam dibagi tiga menjadi 8 jam sekali minum obat dalam sehari, makanya memakai jam sebagai pengingatnya. Bahkan tidak puasa selama bulan Ramadhan. Obat yang dikonsumsinya pun banyak, sekitar ada enam macam obat.

“Berarti aku harus tidak berpuasa selama Ramadhan?” tanyaku

“Yaa, itu temanku. Kalau kamu tanya dulu ke dokter yang bersangkutan” jawabnya

“Baiknya aku cerita apa nggak ke teman-temanku tentang sakit ini?”

“Menurutku kamu nggak usah cerita ke temanmu, takutnya nanti kamu malah dijauhi mereka. Tapi baiknya konsultasikan dulu ke dokter”

Jika memang aku dianjurkan untuk tidak berpuasa selama Ramadhan berarti harus makan setiap hari. (Yaiyalah, namanya juga nggak puasa yaa harus makan). Apa mereka tidak curiga jika seperti ini? Nanti ditanya oleh mereka, kamu kenapa mar nggak puasa? Aku harus jawab apa? Sakit? Sakit apa?

“Kalau ditanya sakit, sakit apa jawabnya?” tanyaku lagi

“Sakit bronchitis, ehhh jangan nanti beneran sakit lebih parah. Apa yaaah, bilang aja sakit paru-paru atau apa gitu” jawabnya.

Aku berpikir kembali. Lebih baik aku membicarakannya di awal sekaligus meminta izin untuk ikut KKN, toh mereka juga sudah dewasa, sudah mahasiswa, rasanya tak mungkin mereka berbuat seperti itu, menjauhiku. Akupun tau diri, lebih berhati-hati agar teman-temanku tak tertular penyakit ini. Kalaupun aku tak dianjurkan oleh dokter dan tak dizinkan untuk ikut KKN, aku siap mengulang mata kuliah KKN di semester 7 nanti.

“Lebih baik aku kasih tau mereka aja deh”

“Baiklah, kalau memang itu yang terbaik”

Setelah berkonsultasi ke dokter, ternyata aku diperbolehkan untuk berpuasa. Justru dokternya bilang, “sakit jangan menghalangimu untuk berpuasa”.

“Kalau KKN dok, boleh ikut nggak?”

“Oh sangat boleh ikut KKN”

Alhamdulillah, aku diperbolehkan berpuasa dan ikut KKN. Karena diperbolehkan berpuasa, aku urungkan niat untuk membicarakan sakit ini di awal. Biarlah ketika ditanya aku jawab dengan sejujurnya aku sakit TB, aku sakit paru-paru.

Aku minta maaf, jika selama ini aku menyusahkan kalian, selalu menuntut bangun pagi, selalu menenteng makanan tiap pagi, tiap hari berkutat dengan obat-obatan. Jika suatu saat nanti kalian ada yang terkena sakit sepertiku, mungkin akulah penyebabnya, akulah yang menularkannya. Tetapi aku berharapa semoga Tuhan menjaga kalian tetap sehat, tak terkena sakit yang aku alami ini. Aaamiin

 













No comments:

Powered by Blogger.