First Time in Jakarta

Liburan. Yeaaaahhh. Waktu yang paling ditunggu oleh sebagian makhluk hidup di dunia ini, termasuk binatang dan tumbuhan, mereka juga membutuhkan waktu untuk bersua dengan teman sejenisnya. Terlebih lagi bagi manusia dengan segudang aktifitasnya membutuhkan waktu merilekskan pikiran dari penatnya aktifitas. Berkumpul dengan keluarga di rumah, menikmati alam yang indah, menikmati hiburan yang ada,

Ada waktu liburan sebelum mulai KKN. Gue memilih mengisinya bersilaturrahim ke rumah kakak yang sudah berkeluarga di Tangerang. Berkeluarga sejak bulan Februari lalu, gue belum tahu rumah ataupun tempat tinggalnya. Inilah waktu yang tepat untuk bersilaturrahim sekaligus jalan-jalan. Hehe.

Setelah sholat Jum'at memulai perjalanan dari terminal Leuwi Panjang Bandung menggunakan bus eksekutif. Ongkos yang gue keluarin sebesar Rp. 65.000. Masih disekitaran Bandung jalanan macet, sudah biasa. Namun setelah masuk tol jalanan begitu lengang, lancar. Beberapa menit masuk tol, bus berhenti di tempat rest area. Mengecek penumpang, barangkali ada yang ingin ke toilet luar dulu. Perjalanan dilanjutkan kembali melewati bukit, hutan yang menawan. Jalanan aman lancar dan terkendali hingga masuk ke kota-kota berikutnya, Bekasi, Karawang, dan lain-lain.

Gue ngerti kenapa bus ini ada toiletnya? Karena sepanjang perjalanan tak pernah berhenti, tak ada rest area berikutnya. Mungkin bus lain juga memiliki toilet di dalamnya. Seandainya tidak ada toilet, kebayang yaaah, kita harus menahannya sampai tempat tujuan, ah rasanya tak kuat.

Sampai di Jakarta jalanan agak tersendat. Kemacetan mulai terasa, padat merayap. Karena waktunya jam pulang kerja. Bersusah payah melewati ibu kota Jakarta akhirnya sampai juga di Tangerang. Turun di Mall City Tangerang atas perintah kakak. Kemudian naik angkot yang selanjutnya, turun lanjut lagi naik angkot yang selanjutnya. Maaf, lupa nama angkot dan jurusannya. Hehe. Turun lagi di depan perumahan bla bla bla, barulah naik ojeg berhenti di sekitar rumah gadang. Akhirnya sampai di tempat tujuan sekitar jam sembilan malam.

Kali pertama gue menghirup udara pagi di kota ini, Tangerang. Salah satu kota yang menjadi tempat perantauan sebagian orang untuk menjemput rezeki.

Kebetulan sekali Jakarta sedang berulang tahun yang ke-486. Dalam rangka memperingati HUT Jakarta, pemprov Jakarta bekerja sama dengan perusahaan lain menyelenggarakan Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2014. Pekan Raya Jakarta ada di dua tempat, pertama di sekitaran Monas, yang merupakan pesta rakyat. Kedua di kemayoran, yang notabene untuk kelas menengah ke atas. Kata televisi. PRJ Fair Kemayoran merupakan pameran paling besar, terlama serta terlengkap di Indonesia

Gue milih PRJ yang di sekitaran Monas, karena jaraknya cukup dekat, naik angkot cuma sekali, tidak ribet, sekalian melihat Monas, dan yang paling penting gratis. Yaah, gratis menjadi daya tarik sendiri untuk sebagian orang. Termasuk gue yang masih bermental mahasiswa, anak rantau, yang pas-pasan.

Sekitar jam 1 siang gue berangkat menuju PRJ Monas. Sebelumnya melalui telepon seluler sudah ada janji ketemu sama teman gue, sebut saja namanya Sa’dullah. Hmmm, emang namanya sih. Yang sekarang sedang bekerja id daerah Cikarang.

Waktu itu langit mendung, tak panas seperti biasanya (emang biasanya gimana, kesini aja baru pertama). Sepertinya akan turun hujan, tapi gue nggak peduli tetap berangkat ke Monas, mumpung masih disini. Angkot yang gue tumpangi melaju perlahan melewati kemacetan Ibu kota. Setelah memasuki Jakarta, kepala gue coba keluar melalui jendela liat-liat jalanan, proyek MRT, bus Trans Jakarta, dan paling penting adalah gedung-gedung pencakar langit berdiri gagah perkasa yang menghiasi kota. Pertama kalinya gue menginjakkan kaki di Jakarta. Wooowwww, gedung-gedungnya tinggi, nggak seperti di daerah kelahiran gue, Cirebon. Ternyata sama yah, apa yang sering gue liat di televisi tentang Jakarta, macet, gedung tinggi berjajar rapih, kesibukan orang kota, dan sebagainya yang menjadi ciri khas Jakarta. Mumpung lagi di Jakarta, jadi kepikiran pengen ketemu orang nomor 1 di Indonesia, presiden SBY. Pengen selfie bareng pak SBY dengan gaya dua jari unyu-unyu atau satu jari menutup mulut, sepertinya menarik. Mungkin menjadi pembicaraan hangat di media.  Tapi ah mana mungkin pak SBY mau ketemu sama gue, apalagi selfie, orang yang belum penting, hanya rakyat jelata, orang kampung yang masuk Kota. Langsung bikin PM di BBM, “da aku mah apa atuh pak”.

“Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengizinkanku melihat Jakarta secara langsung”

Melewati bunderan Hotel Indonesia (HI), yang sering diberitakan di televisi. Yang menjadi tempat syuting beberapa film, sinetron, acara berita, dan tempat demonstrasi.
Memasuki gerbang PRJ, terlihat dari kejauhan Monumen Nasional yang melambai-lambai. Monumen yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan colonial Hindia Belanda. Di atasnya bermahkota lidah api yang dilapisi lembaran emas melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Ketemu sama temen tepat dibawah sekitaran monas. Dulu, gue hanya bias liat monument ini melalui layar televisi, tapi sekarang gue bias liat secara langsung dengan mata kepala gue sendiri keindahan bangunan ini. Yeaaah, monas merupakan tugu ketiga yang berhasil gue taklukan. Setelah sebelumnya pertama, tugu ASPEN (Asem Pendek) berada di perbatasan Bodelor dan Bodesari Plumbon Cirebon, kedua Monumen Perjuangan Bandung.

Hujan tidak mengurangi antusiasme warga yang ingin mengunjunginya. Termasuk kami, yang terus berkeliling melihat-lihat pedagang, mencari oleh-oleh dari Jakarta.
Setelah cukup puas berkeliling PRJ Monas meskipun tak dapat apa-apa, jalan-jalan dilanjutkan kembali ke Kota Tua Jakarta yang katanya lagi ada festival wayang. Naik bus Trans Jakarta menuju Kota Tua. “Oh gini yaah bus yang katanya bermasalah, ada kasus korupsi di dalamnya”. Bus ini memiliki lajur tersendiri agar tak terjadi kemacetan. Ongkosnya cukup tiga ribu rupiah, sama dengan damri Bandung Ledeng-Leuwi Panjang, bedanya hanya pada busnya. Trans Jakarta tak berasap sedangkan Damri Bandung berasap hitam.

Sampai di kota tua langsung berkeliling liat-liat festival wayang, benda-benda jaman dulu, benda antic, unik. Dan tak lupa foto bareng manusia batu ala Kota Tua. Manusia batu bukan manusia terbuat dari batu, tetapi manusia yang membawa batu. Ehhhh, salah, maksudnya manusia yang dihias sedemikian rupa sehingga menyerupai patung dan berdiam diri dalam waktu yang lama.

Hari sudah semakin sore, menjelang maghrib, kami harus berpisah. Gue kembali ke tempat semula naik bus TJ. Dan harus bermacet-macet ria, penuh dengan lautan manusia. Yaahhh, this is Jakarta. First time In Jakarta.

No comments:

Powered by Blogger.