Bandung, 22 September 2014

Seperti biasa tempat kost Fajar jarang sepi kecuali hari sabtu, minggu dan hari libur. Aku dan teman-teman yang sedang asyik ngobrol tentang berbagai hal dikejutkan oleh Eka yang tergopoh-gopoh meminta bantuan ada salah seorang dosen elektro tiba-tiba sakit di warung soto.

Kami bergegas ke tempat tersebut. Terlihat bapak Rana, dosen kami bersandar lemas, tubuhnya tak berdaya, sedikit kaku, cairan putih keluar dari hidungnya. Fuad, yang mendekap pak Rana mencoba berbicara dengannya, menanyakan apakah mau dibawa ke jurusan atau kemana. Namun beliau diam, tak bisa berkata, hanya memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala perlahan.

Dengan terburu-buru Febi mengambil sepeda motor milik Aris yang terparkir di sekitar kost Fajar. Kami membantu Fuad menaikan pak Rana ke atas motor. Mukanya sangat pucat, matanya sedikit melotot, membuat kami semakin khawatir. Ada ketakutan dan rasa tidak enak yang menyelimuti pikiran kami. Cairan putih yang diduga dari otaknya keluar lagi dari hidung, kali ini aku yang mengusapnya dengan tisu. Febi yang mengendarai, Fuad yang mendekap pak Rana dari belakang berangkat perlahan menuju poliklinik kampus.
Kami pun kembali ke tempat kost Fajar, berharap pak Rana tidak terjadi apa-apa. Sambil membicarakan awal mula kejadiannya bisa sampai seperti itu.

“Pak Rana dosen apa? Tanyaku.

“Dosen Elkom”

“Yang waktu itu ikut kunjungan industry ke Jati luhur” jawab Eris.

“Ohhh, saya jarang ngeliat pak Rana euy”

Pak Rana adalah dosen di konsentrasi Elektronika Komunikasi di Jurusan Pendidikan Teknik Elektro. Sedangkan kami di konsentrasi Listrik Tenaga, jadi beliau tidak pernah mengajar di mata kuliah kami. Tetapi beliau adalah dosen kami, bagian dari kami Departemen Pendidikan Teknik Elektro, bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia, beliau adalah guru kami.

Sesaat kemudian kami mendapat kabar dari yang mengantarkan ke Poliklinik, bahwa pak Rana tidak bisa terselamatkan.

Innalillahi wa innailaihiraaji’un.

Kami termenung, mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Kejadian yang beberapa menit berlalu. Kami menyaksikan kekuasaan-Nya. 

"Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati”. (Q.S. Al Baqarah : 185)
"Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah" (Q.S. Al Baqarah : 145)
Dimanapun, kapanpun ajal pasti datang kepada kita, hanya menunggu waktu. Malaikat izrail ada didekat kita, hanya menunggu perintah dari Allah untuk mencabut nyawa kita.

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosa yang pernah beliau lakukan, baik yang terkecil sampai yang terbesar, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Terimalah segala amal ibadahnya. Golongkan dosen kami ini menjadi para syuhada, yang telah mengajarkan kami ilmu dari-Mu ya Allah. Lapangkan lah kuburanya, juahkanlah dari siksa kubur-Mu. Jadikanlah almarhum menjadi ahli syurga-Mu. Berikanlah ketabahan untuk keluarga yang ditinggalkan menghadapi semua ini. Jadikanlah kami yang menyaksikan ini, orang-orang yang lunak hatinya, orang-orang yang dapat mengambil pelajaran atas apa yang terjadi, orang-orang yang ingin selalu menjadi lebih baik” Aamiin.

Selamat jalan bapak Drs. Rana Baskara, terima kasih ilmu yang telah engkau ajarkan kepada kami. Semoga menjadi amal jariyah yang tak pernah putus meskipun ruh dan jasadmu telah berpisah sampai hari kiamat.

Diketik di kostan Gerlong Girang No. 31, dibaca di mana saja.

Bandung, 22 September 2014.

No comments:

Powered by Blogger.