Menulis Sesukamu

Dulu ketika masih berseragam merah putih, biru putih, hingga putih abu-abu mata pelajaran yang paling nggak aku sukai adalah Bahasa Indonesia. Alasannya sederhana, nggak suka baca dan nggak suka nulis. Apalagi jika memasuki liburan sekolah kemudian diberi tugas mengarang tentang liburan di rumah nenek lah, di rumah tante, di rumah mertua lah. Karena belajar Bahasa Indonesia identik dengan membaca dan menulis. Berbeda dengan belajar sains sedikit membaca tetapi penuh perhitungan. Makanya dulu aku lebih suka sains daripada Bahasa. Dan tak heran waktu SD aku menonjol dalam bidang matematika. Sehingga kerap kali menjadi juara kelas. Hehe.

Di penghujung masa putih abu-abu perjumpaan dengan Mr. Yunsirno dan bukunya ‘keajaiban belajar’ sedikit demi sedikit membuat aku jadi suka membaca. Apalagi ikut dalam program beliau yang ‘6 Minggu Belajar Bahasa Inggris’ yang salah dua metodenya adalah menulis dan tanpa mencatat. 

Memasuki dunia perkuliahan kesukaan membacaku semakin meningkat, aku sering beli buku apapun yang pengen aku beli kalau ada uangnya. Barulah di semester dua aku mencoba menulis dan berselancar di dunia maya melalui blog.

Suatu waktu aku berkesempatan mengikuti workshop tentang kepenulisan bersama M. Khoirul Anwar KH yang diselenggarakan LPM Setara Unswagati. Pemateri menyajikan berbagai tips menulis, khususnya menulis essai. Menulis itu pada hakikatnya berbeda dengan mencatat. Menulis adalah menuangkan ide atau gagasan dalam bentuk tulisan. Sedangkan mencatat adalah memindahkan hasil tulisan.

Ada beberapa tips menulis, khususnya essai yang pemateri bagikan kepada peserta .

1. Peka
Jika rumah terdiri dari fondasi dan kerangka bangunan, maka kiat implisit itu merupakan fondasi yang selama ini beliau coba, rasa dan pelihara. Fondasi itu berawal dari: menjadikan diri sebagai seorang pembaca fenomena yang peka. Kepekaan adalah hal mutlak yang musti dipunyai oleh seorang essais. Dari kepekaan itu lahir sebuah gagasan subyektif untuk meneropong fenomena objektif yang berseliweran di kanan-kiri.

2. Berpikir Negatif
Jika dalam seminar tentang motivasi, sang motivator akan berteriak berpikir positif. Justru penulis berkebalikan dari itu, penulis harus berpikir negative. Karena segala hal akan mudah diurai urat-uratnya jika yang dipakai adalah kerangka negativitas. Dalam arti memandang semua fenomena yang terjadi tak berjalan semestinya. Jika disederhanakan mungkin bisa dirangkum dalam kalimat “ada yang salah dari semua ini”. Dari potongan kalimat itu diharapkan akan lahir pencaharian radikal seorang essais terhadap fenomena yang digelutinya.

3. Membaca
Menulis tanpa diiringi tradis membaca hanya akan menghasilkan tulisan yang hampa ide dan kosong isi. Seperti dalam blog ini yang masih jauh dari ide-ide, hanya luapan emosi sang penulis. Mirabeau, salah satu arsitek Revolusi Prancis, pernah berujar: ada orang yang tak pernah mengubah pikirannya. Itulah orang yang tidak pernah membaca sama sekali.

4. Lokalitas
Cobalah menulis dari sesuatu yang kita alami dan resapi seahri-hari. Jauhkan tradisi menulis persoalan atau narasi besar. Belajarlah dulu menulis dari persoalan riil yang kita temukan di sekitar. Think globally, act locally.

5. Diary
Mulailah menulis diary. Ini cara paling sederhana dan paling jitu untuk menjadi penulis. Jika tulisan diary masih belum baik, tak apa-apa, teruslah menulis. Namanya juga belajar, bertahap, tidak mungkin langsung jadi bagus. Apa yang harus ditulis? Bisa peristiwa penting yang kamu alami, pengalaman traveling, atau apapun sesuatu yang kamu sukai. Seperti yang sedang aku lakukan, belajar menulis dairy melalui blog ini. Belajar, belajar dan terus belajar menulis.

Yuuuk menulis, menulis sesukamu. :)

No comments:

Powered by Blogger.